DI AMBANG PINTU RAMADHAN



Sepuluh hari lagi menuju Ramadhan suci,
Hati berdebar menanti datangnya cahaya,
Bulan penuh rahmat dan kasih illahi,
Menghapus gelap, menerangi jiwa.

Angin berbisik dalam syahdu malam,
Mengingatkan hati untuk bersiap diri,
Meninggalkan dosa, mendekap salam,
Menyambut bulan yang suci nan tinggi.

Puasa menanti, menahan godaan,
Lisan dijaga, hati disucikan,
Doa terlantun penuh harapan,
Agar Ramadhan membawa keberkahan.

Ya Alloh, bimbing langkah kami,
Sepuluh hari menuju cahaya abadi,
Jadikan hati ini bersih kembali,
Menyambut Ramadhan dengan cinta iIlahi.

KATA-KATA HARI INI


 

Ketika aku memikirkanmu,

aku menulis puisi

DOA SEPERTIGA MALAMKU

 



Di malam yang hening, aku berdoa,  

Untuk kehidupan yang kujalani,  
Untuk seseorang yang bergelar suamiku, imamku
Dengan cinta yang tulus, dan ketulusan yang mendalam.

Rumah tangga kita, seperti taman yang selalu mekar,
Penuh bunga cinta yang tak pernah layu,
Meski terkadang badai datang mengusik,
Kita tetap bertahan, saling menggenggam tangan.

Doa malamku selalu untuk kita berdua,
Semoga kebahagiaan ini tak pernah pudar,
Semoga sabar dan cinta jadi cahaya penerang,
Di setiap langkah yang kita tempuh,hingga akhir waktu nanti.

Kehidupan rumah tangga, bukanlah tentang sempurna,
Tapi tentang menerima, tumbuh, dan berkembang,
Bersama kita jalani setiap detik yang ada,
Dengan penuh cinta dan doa yang tak pernah putus.


GABUT



GABUT

Di sudut waktu yang perlahan berlalu,
kutatap layar, tak tahu mau apa dulu.
Angin berbisik tanpa tujuan,
Seketika terhentakku dalam lamunan

Tugas bertumpuk, tapi hati enggan,
pikiran melayang ke awan tak beraturan.
Jualan sepi, tak ada suara,
hanya notifikasi kosong belaka.

Namun di sela hening yang membeku,
ada ide kecil mulai bertamu.
Mungkin gabut tak sekadar jemu,
tapi ruang untuk lahirnya sesuatu.

MENULIS DI TEPI SENJA

Kubuka buku catatan,

Halaman kosong menanti cerita,

Tinta pena menari pelan,

Sambil angin pantai menyisir jiwa.


Ombak tak pernah lelah bercerita,

Aku dengarkan, kuresapi maknanya,

Kadang aku tulis, kadang hanya kurasa,

Seperti rahasia yang hanya aku dan laut tahu isinya.


Dia duduk tak jauh dariku,

Membiarkanku larut dalam imajinasi,

Tak mengganggu, tak bertanya,

Cukup hadir, dan itu puisi paling abadi.


Pantai jadi tempatku bercerita tanpa suara

Saat dunia terlalu ramai, dan kepala penuh kata.

Kupilih duduk lama biar pikiran reda

Biar aku dan dia menyatu dalam senja


Senja memudar di ujung cakrawala,

Aku masih menulis,

Tentang hari ini, tentang dia, tentang segala,

Yang tak sempat kukatakan, tapi abadi di kertas tipis