MASIH ADA HARAPAN

Walau langkah terasa berat,

dan napas tertahan oleh lelah yang pekat,

ingatlah, hidup tak selamanya mendung,

akan ada cahaya yang datang, meski perlahan merayap.


Kesulitan bukan akhir,

ia hanya jeda sebelum takdir yang lebih indah hadir.

Dalam setiap luka, ada ruang untuk sembuh,

dalam setiap jatuh, ada alasan untuk bangkit penuh.


Jangan menyerah,

karena selama matahari masih setia terbit di ufuk timur,

harapan pun tak akan pernah pergi,

ia menunggu... dalam sabar yang tak bertepi.



ISI HATI

 


Bismillah...

Ini langkah kecil menuju mimpi besar.

Aku tidak sendiri, Allah bersamaku.

Aku berhak bertumbuh, berhak mencoba, berhak belajar.

Tak perlu sempurna, cukup berani satu langkah lebih maju hari ini.

Apa pun hasilnya nanti, aku sudah menang — karena aku tidak menyerah

SETIAP TANGAN YANG MENENGADAH


Setiap tangan yang menengadah ke langit,

bukan sekadar meminta, tapi berserah pada yang Maha Mendengar.

Dalam sunyi, doa meluncur tanpa suara,

namun langit menyambutnya dengan cinta yang luar biasa.


Tak satu pun harap melayang sia-sia,

meski jawabannya mungkin datang dalam bentuk yang tak disangka.

Air mata yang jatuh bersama rindu,

kan tumbuh jadi bahagia dalam waktu yang tak pernah keliru.


Sungguh, tangan yang menengadah tak akan pulang dengan hampa,

karena Allah tak pernah meninggalkan hamba yang percaya.

Teruslah berharap, teruslah percaya,

sebab langit selalu terbuka untuk jiwa yang berserah penuh cinta

PEREMPUAN GAUL YANG TAAT

 Di tengah gemerlap dunia yang megah,

Ia melangkah penuh maruah.

Gaya kekinian, tutur menawan,

Namun iman tetap jadi pegangan.


Tak gentar arus yang menggoda,

Tak silau kilau fana dunia.

Gaulnya santun, canda berfaedah,

Tak luntur akhlak dalam langkah.


Sami’na wa atho’na di hati tertanam,

Bukan sekadar lisan yang terucap pelan.

Taat bukan beban, tapi kebanggaan,

Syariat Allah, cahaya pegangan.


Dia teguh dalam prinsipnya,

Tersenyum ramah, tetap terjaga.

Gaul bukan alasan untuk lalai,

Karena ridha-Nya tujuan yang dicari.


Maka lihatlah, wahai dunia,

Seorang perempuan dengan cahaya jiwa.

Modern, cerdas, dan berdaya,

Namun tetap tunduk pada-Nya


LELAH

Di sudut kamar yang temaram,  

terbuka layar penuh harapan,  

tangan lemah masih berjuang,  

menuliskan mimpi yang belum usai.  


Kacamata bertengger redup,  

menyaksikan mata yang perlahan tunduk,  

jemari tak lagi menari,  

terjatuh dalam lelah yang sunyi.  


Buku-buku bertumpuk rapi,  

diam seribu bahasa,  

seolah tahu, dalam tiap lembar,  

tersimpan tekad yang tak akan pudar.  


Dalam lelah, ada doa,  

terbisik lirih tanpa suara,  

karena perjalanan belum selesai,  

dan esok cahaya akan menyapa