Bisikan Langit

Dalam sunyi itu,

ketika dunia menepi dan waktu seakan membeku,

ada bisikan lirih menyusup ke ruang hati—

bukan dari bumi, tapi dari langit yang abadi.


"Aku di sini..."

suara itu tak lantang, tapi dalam,

mengalir lembut seperti angin malam

yang menyentuh luka tanpa mengusik perihnya.

Aku tidak pernah pergi.

seolah menjahit retak di dada,

menghapus tanya-tanya yang lama mengendap,

tentang kehadiran yang tak terlihat,

namun nyata dalam setiap detak.


Malam pun menjadi saksi,

sholawat mengalun menembus langit tinggi,

dan jiwa yang sempat letih kini mengerti—

bahwa cinta-Nya tak pernah henti.


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat."

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.

(QS. Al-Baqarah: 186)


Hujan Pagi, Semangat Lagi

Turun perlahan dari langit tinggi,

hujan menyapa bumi dengan kasih yang sunyi.

Tak sekadar basahi daun dan tanah,

tapi juga hati yang kadang lelah.


Pagi ini bukan tanda redupnya hari,

melainkan berkah yang jatuh tanpa henti.

Langit mungkin mendung,

tapi semangat tak boleh ikut murung.


Mari bergerak dengan hati yang hangat,

walau hujan deras, semangat tetap kuat.

Sebab seperti hujan yang terus turun,

kita pun tak boleh berhenti melangkah meski perlahan dan sunyi


RINDU YANG TAK BISA DIAM

(Kutulis untuk anak2 LKSA Peduli Sahabat Batang)


Hari-hari berlalu dalam kesibukan,

tapi di sela itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh dalam diam.

Rindu senyum-senyum polos penuh harapan,

rindu tawa kecil yang tulus, tanpa beban.


Mereka bukan sekadar anak binaan,

mereka bagian dari doa yang kusebutkan setiap malam.

Setiap nama, setiap wajah,

tersimpan rapi di ruang hati yang tak pernah lelah.


Andai bisa kugenggam waktu,

ingin sekali datang dan memeluk satu-satu.

Bercerita, mendengar, dan menyeka duka,

walau hanya dengan tatapan hangat seadanya.


Ya Robb.. sampaikan rinduku lewat angin,

biar mereka tahu:

di manapun aku berada…

mereka tak pernah jauh dari doa.



AKU MASIH ADA

Aku tidak setenang langit pagi,

tapi aku belajar menenangkan badai dalam diri.

Bukan karena hidupku mudah,

tapi karena aku tahu—

marah tak bisa mengubah arah,

dan sedih tak bisa membayar mimpi.


Tubuhku terbatas,

tapi jiwaku luas.

Aku tak bisa berlari mengejar dunia,

maka kugenggam dunia dari tempatku berada.

Dengan jemari yang tak lelah berjuang,

kupilih jalan sunyi:

mengetik, berjualan, mencipta harapan,


Aku masih di sini.

Masih menyapa dunia dengan senyum,

Masih mencoba bertahan,

bukan karena tak lelah,

tapi karena aku percaya:

Tuhan melihat semua yang tak terlihat orang lain.


Dan jika hari ini hanya bisa kulalui dengan setengah tenaga,

maka akan kuberikan setengah itu dengan sepenuh hati.

Karena aku bukan ingin dikasihani,

aku hanya ingin dimengerti,

bahwa perjuanganku nyata,

meski tak selalu terdengar suara.


Aku masih ada.

Masih melangkah dalam diam,

masih menyalakan semangat dari dalam.

Karena hidup bukan tentang sempurna,

tapi tentang bagaimana kita memilih

untuk tetap hidup dengan makna



JALAN PULANG

 Seseorang yang telah ditakdirkan,

tak akan hilang meski terpisah angin dan waktu.

Ia akan menapak sepi, menembus sunyi,

mencari jejak yang pernah ia tinggalkan di hatimu.


Tak perlu kau teriak,

tak perlu kau cari dalam ribuan arah.

Ia tahu, meski diam-diam,

ke mana arah pulang yang paling sunyi namun pasti—kepadamu.


Karena takdir bukan tentang seberapa lama kau menunggu,

tapi tentang seberapa yakin langkahnya menuju

tempat di mana hatinya terasa utuh:

dalam dekapan namamu