DIRI SENDIRI

 Jadilah pijakan saat langkah terasa goyah,  

Penguat di kala hati hampir menyerah.  

Sebab yang paling memahami luka,  

Adalah diri sendiri, yang merasakannya.  


Bukan orang lain yang menentukan arah,  

Bukan suara asing yang menggurat resah.  

Tetapi tanganmu sendiri yang menguatkan,  

Dan hatimu yang tetap bertahan.  


Dalam sunyi, temukan ketenangan,  

Dalam lelah, berikan pelukan.  

Sebab kekuatan sejati ada di dalam diri,  

Menemani setiap langkah, tanpa henti


TERSENYUMLAH

Meski dunia terasa berat memelukmu,

meski malam tak kunjung reda,

dan air matamu lebih sering menemani

daripada tawa yang dulu akrab di hati.


Tersenyumlah…

Bukan karena semuanya baik-baik saja,

tapi karena kamu memilih tetap kuat

meski hati telah berkali-kali patah

dan langkahmu penuh luka yang tak kasat mata.


Kesedihan telah merenggut banyak darimu:

janji yang tak ditepati,

doa-doa yang belum terjawab,

dan orang-orang yang pergi

tanpa pernah memberi alasan yang cukup.


Ia datang tanpa aba-aba,

menghantam dadamu seperti badai,

membawa gelap,

namun tak memberi pelita untuk bertahan.


Tapi lihatlah dirimu hari ini—

masih berdiri, meski gemetar.

Masih melangkah, meski lambat.

Masih berharap, meski kecil sekali sinarnya.


Tersenyumlah…

Karena di balik semua luka yang tak terlihat,

ada jiwa yang tetap memilih untuk hidup,

ada hati yang meski remuk,

masih tahu caranya mencintai.


Senyum itu bukan tanda kamu tak terluka,

tapi bukti bahwa kamu tak menyerah.

Dan meski kesedihan tak memberi apa-apa,

senyummu bisa jadi kekuatan,

untuk dirimu sendiri,

dan bagi mereka yang diam-diam menjadikanmu inspirasi




SELAMAT DATANG JUNI

Selamat datang, Juni yang manis,

Langkahmu lembut, membawa kisah baru yang realistis.

Setelah hujan di bulan lalu reda,

Kini harapan tumbuh, menjulang ke udara.


Juni, engkau bagai senyum pagi,

Hangat menyentuh hati yang sempat letih berdiri.

Bersamamu, kami belajar lagi,

Tentang sabar, syukur, dan berani menapaki.


Mentari lebih lama bersinar,

Langit cerah, semangat pun mengalir deras tak gentar.

Bulan keenam—tanda pertengahan jalan,

Tapi langkah kami tak akan perlahan.


Juni, tuntun kami dalam doa-doa,

Dalam usaha yang tak pernah sia-sia.

Biar sedikit, asal terus melaju,

Menuju kebaikan, menuju restu.


Selamat datang, Juni penuh harapan,

Mari menulis cerita yang penuh kebaikan.

Dengan cinta, doa, dan hati yang bersih,

Insyaa Alloh, segalanya terasa lebih indah dan berseri. 




AKU DAN JALANKU

Aku,  

penulis yang merangkai harapan dalam kata,  

relawan yang menebar kasih pada mereka yang butuh pelukan dunia,  

affiliate yang membangun langkah dengan usaha dan kreativitas,  

dan pencinta yang tak pernah ragu.  


Di antara langkah-langkahku,  

ada jejak doa yang kutitipkan,  

ada hati yang ingin memberi,  

ada impian yang kian tumbuh,  

dan ada dirimu, yang tak pernah luput dari ingatan


BUKAN CINTA MANUSIA BIASA

 Ini bukan sekadar rindu yang menepi  

Bukan hati yang mengemis temu  

Ini cinta yang tak terikat waktu  

Mengalir dalam doa, bertaut di langit biru  


Tak hanya lirih dalam senandung  

Tak hanya terucap dalam syair  

Ia menelusup ke dasar jiwa  

Menjadi cahaya yang tak pernah berakhir


Cinta ini suci, tak mengenal batas  

Mengalun bagai irama

Menghidupi arti yang lebih luas  

Bukan cinta manusia biasa