TOPENG TAWA

 Kamu tahu nggak…

Orang yang paling cerewet,

paling ramai dengan canda,

yang tampak paling kuat di mata dunia—

bisa jadi menyimpan luka

yang tak pernah sempat dicerita.


Depresi tak selalu berwajah murung,

kadang ia datang dengan senyum paling terang,

dengan tawa yang menggema,

yang ternyata hanya topeng semata.


Di balik candanya,

ada sunyi yang menggigit.

Di balik tawanya,

ada air mata yang sengit.


Jangan remehkan senyum orang lain,

karena bisa jadi,

itulah cara mereka bertahan hari demi hari


UJUG UJUG MELINTAS

Terkadang,  

tanpa aba-aba,  

aku tersenyum lirih,  

di tengah sepi yang bersandar di bahuku sendiri.  


Hanya karena wajahmu

datang,  

melintas pelan di kepala,  

seolah langit sore menitipkan bayangmu lewat angin.  


Efek rindu, mungkin.  

Atau doaku yang menjelma menjadi kenangan  

lalu singgah tanpa permisi—  

membuat dadaku hangat,  

meski kau tak di sin


DALAM DOA, AKU MENEMUKANMU

Setiap hari,  

aku belajar memelukmu dalam doa—  

bukan sekadar kata, tapi harap yang melekat  

di tiap helai sajadah yang basah oleh rindu.


Aku belajar,  

bahwa rindu tak selalu perlu reda,  

cukup ia kuat… agar tak patah.


Dan anehnya,  

dalam gelombang jarak yang sunyi,  

aku tetap bersyukur.


Karena dari jutaan kemungkinan,  

Tuhan memilihkan kamu—  

penenang yang tak bersuara,  

tapi mampu meredakan ributku,  

meski hanya dari kejauhan


BIAR ALLAH YANG MENYEMPURNAKAN

 Fokuskan hatimu dalam sujud yang jujur,  

di tiap lirih doa sebelum fajar beranjak.  

Ibadahmu—itulah penjagaanmu  

saat dunia gemuruh, Allah tetap dekat.


Berikan dengan lapang dari apa yang kamu bisa,  

walau hanya senyum atau secarik doa.  

Karena sedekahmu tak pernah sia-sia,  

meski manusia tak menyapa.


Usahamu mencari rezeki—cukupkan itu dengan ikhtiar,  

tak perlu memaksakan yang bukan takdirmu.  

Karena rezeki datang seperti hujan:  

tak selalu terlihat awalnya,  

tapi cukupkan tanah yang bersabar menunggu.


Dan semua hal yang membuatmu risau,  

biarkan Allah yang menyempurnakan,  

dengan kasih-Nya yang tak pernah absen,  

dan janji-Nya yang tak pernah lalai.


LELAKI YANG TAK PERNAH BERCERITA

Ia tak pandai melukis lelah dalam kata,  

Tak sempat mengeluh saat peluh jatuh membasah.  

Langkahnya berat, namun mantap menuju rumah,  

Demi satu senyum hangat yang menyambut di ambang pintu.


Lelaki itu...  

Tak pernah memamerkan luka yang ia sembunyikan,  

Tapi selalu pulang dengan tangan terbuka.  

Di matanya tergenggam harap istri dan anak-anak,

Tentang pengganjal lapar, atau selembar biaya sekolah  

yang mungkin belum lunas,  

Tapi tak pernah ia biarkan terlewat dari doa.


Ia pejuang, dalam diamnya yang mulia.  

Ia cahaya, meski kadang meredup oleh dunia.  

Tapi setiap detik ia berjalan,  

ada cinta yang ia bawa pulang dalam wujud sederhana:  

Kehadiran, keteguhan... dan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja