Selamat datang, November.

Bulan kelahiran, bulan harapan yang kutanam dengan doa. 

Aku tidak meminta dunia tunduk padaku, 

hanya memohon agar hatiku tetap tunduk pada-Nya.


Semoga kebahagiaan datang bukan karena segalanya mudah, 

tapi karena aku dimudahkan dalam bersyukur. 

Semoga rezeki mengalir bukan hanya dalam bentuk materi, 

tapi juga dalam bentuk ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup.


Semoga setiap urusan menjadi ringan, 

karena Allah yang menggenggamnya. 

Semoga aku istiqomah dalam ibadah, meski dunia terus berubah.


Jauhkan aku dari hal-hal yang tidak baik, 

yang mengaburkan cahaya dalam diri. 

Lindungi aku, ya Rabb, 

seperti Engkau melindungi hamba-hamba yang Kau cintai.


Di bulan kelahiranku ini, 

aku ingin menjadi lebih berguna, lebih bersih, lebih dekat. 

Karena hidup bukan tentang berapa lama aku ada, 

tapi tentang seberapa banyak aku memberi.


Tenang Sebelum Segala Sesuatu Berubah

Ketika hati sudah benar-benar berserah, bahkan di tengah kesulitan, yang tersisa hanyalah ketenangan. 

Sebuah refleksi sederhana tentang pasrah, ikhlas, dan rasa damai yang datang sebelum pertolongan Allah tiba.


Entah sejak kapan, aku mulai tak lagi terburu-buru meminta segalanya selesai dengan cepat.

Mungkin karena aku sudah terlalu sering melihat, bahwa setiap yang tertunda pun, tetap akan sampai, asal Allah sudah mengizinkan.

Aneh memang, hatiku setenang ini sekarang.

Padahal masalah masih ada, kebutuhan masih menunggu, dan hal-hal kecil seperti ponsel mati pun belum menemukan jawaban.

Tapi justru di situ aku merasa,

bahwa tenang bukan karena keadaan,

melainkan karena keyakinan.


Aku tidak lagi menunggu sesuatu untuk kembali,

aku menunggu bagaimana Allah akan mengembalikannya dengan cara-Nya sendiri.

Mungkin nanti, mungkin besok, mungkin saat aku sudah benar-benar pasrah.


Ada waktu di mana aku hanya tersenyum saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Bukan karena aku kuat,

tapi karena aku tahu, setiap yang Allah izinkan terjadi, pasti punya maksud yang lebih indah.


Tenang itu bukan berarti semuanya baik-baik saja,

tapi karena aku sudah percaya,

bahwa di balik setiap ujian,

ada kasih sayang Allah yang sedang bekerja dengan lembut sekali. 


Kadang Allah tidak langsung mengubah keadaan, karena Dia sedang menguatkan hati kita terlebih dahulu. 

Dan di situlah, ketenangan itu tumbuh,bahkan sebelum segalanya berubah.





Daily Volunteer

“Tidak semua perjuangan terlihat, tetapi setiap langkah kebaikan bernilai di sisi Allah.

Advokasi ini merupakan salah satu ikhtiar yayasan untuk memastikan keluarga pra-sejahtera mendapatkan hak bantuan sosial yang layak.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk semakin memperkuat kepedulian dan solidaritas bersama.”



Sebanyak Kebaikan Nabi

Allahumma sholli wa sallim, 

Pada nama yang membuat langit bersujud, Muhammad, 

Cahaya yang tak padam, 

Yang setiap jejaknya adalah jalan kebaikan


Sebanyak kebaikan beliau, 

Sebanyak itu pula kami memohon rahmat, 

Karena tak ada bilangan yang cukup 

Untuk menampung cinta yang beliau wariskan.


Kami sebut namanya di Subuh yang sunyi, 

Di antara desir angin dan dzikir hati, 

Agar hidup kami ikut bercahaya, 

Meski hanya setitik dari samudera beliau.


Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Nabi yang Engkau cintai, 

Kepada keluarganya yang menjaga warisan, 

Kepada sahabatnya yang menyalakan lentera zaman.

Sebanyak kebaikan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Sebanyak itu pula kami berharap Engkau mencintai kami, karena kami mencintai beliau.


Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ‘adada hasanaati sayyidina Muhammad.


Setenang Itu Aku Sekarang

Ada masa di mana aku tak lagi berlari mencari tenang di luar diri.

Karena kini aku tahu, ketenangan sejati bukan datang dari siapa yang menemani, tapi dari seberapa dalam aku berserah pada Allah.

Malam-malamku bukan lagi sepi, tapi ruang untuk berbicara tanpa suara antara aku, Allah, dan Rasul.

Setiap dzikir seakan memelukku, setiap sholawat membawa cahaya, dan setiap ayat yang kubaca menenangkan hatiku.

Aku tak ingin menonjolkan apa yang kulakukan,

cukup ingin berbagi rasa bahwa kedamaian itu nyata 

dan ia datang ketika kita berhenti berpegang pada dunia, lalu menggenggam erat nama-Nya.

Sunyi yang Menenangkan

Di sunyi malam, aku belajar diam,

bukan karena letih, tapi karena ingin mendengar.

Ada bisikan lembut di dada,

mengajak pulang pada Yang Maha Ada.

Tiap hela napas terasa ringan,

seolah beban dunia dilepaskan perlahan.

Sholawat jadi jembatan rindu,

mendekat pada cahaya Rasul-Mu.

Tak ada lagi resah yang menggigil,

hanya damai yang menetes seperti embun subuh.

Kupeluk tenang, bukan karena aku kuat,

tapi karena Engkau tak pernah jauh, ya Allah.

Ketenangan ini bukan karena aku tak diuji,

tapi karena aku belajar memahami setiap ujian adalah cara Allah memelukku dengan cara yang paling lembut.