Jika ada bab yang belum selesai,
semoga Engkau selesaikan dengan cara-Mu yang paling lembut.
Jika ada pintu yang tertutup,
semoga Engkau bukakan yang lebih baik.
Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Ya Allah.
Jika ada bab yang belum selesai,
semoga Engkau selesaikan dengan cara-Mu yang paling lembut.
Jika ada pintu yang tertutup,
semoga Engkau bukakan yang lebih baik.
Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Ya Allah.
Di ruang tamu kutemukan ketenangan,
lantai kuning, dinding hijau jadi saksi. Laptop terbuka, tugas perlahan kutulis, di sela cahaya yang masuk dari pintu kaca.
Ada langkah-langkah lewat di luar sana, seperti ide yang datang, lalu pergi. Kadang fokus pecah, kadang hati tertawa, namun semangat tetap duduk di kursi ini.
Ruang sederhana, perjalanan besar, hari ini tugasku jadi semangatku
Banyak yang bertanya, "Sahur apa hari ini?"
Mungkin bagi sebagian orang, sahur identik dengan meja makan yang penuh lauk pauk. Tapi bagiku, sahur adalah momen sunyi yang penuh kecukupan. Hari ini, di sepertiga malam yang tenang, menu sahurku sangat sederhana: beberapa keping biskuit, segelas air putih di tumbler kesayangan, dan istimewanya... ada ketela rebus.
Sebenarnya, menu tetapku biasanya cukup satu butir telur rebus, air putih, dan sebuah pisang. Sederhana, praktis, dan cukup untuk modal tenaga menjalankan Puasa Dawud. Namun, ada cerita manis di balik sahur kali ini.
Kemarin sore, seorang kerabat/tetangga memberi saya ketela rebus. Alhamdulillah, rezeki yang tidak disangka-sangka. Karena ada ketela, telur rebusnya saya simpan dulu untuk lain waktu. Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dipedulikan oleh sesama, dan merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.
Makan sahur tanpa nasi bukan berarti kekurangan. Justru di sini saya belajar, bahwa yang kita butuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya rasa syukur yang perlu kita luaskan.
Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.
Apalagi saat ini kita berada di bulan Rajab, salah satu bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang menjadi pintu pembuka menuju Ramadan. Di waktu sahur yang mustajab ini, mari kita hiasi dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita disampaikan ke bulan suci nanti:
Doa Memasuki Bulan Rajab:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighnaa Ramadhana.
"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan."
Bagi teman-teman yang mungkin besok ingin menyusul berpuasa (baik Puasa Dawud, Senin-Kamis, atau puasa Qadha), jangan lupa niatnya ya. Cukup dalam hati dengan tulus:
"Nawaitu shauma Daawuda sunnatan lillaahi ta'aalaa." (Aku berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah Ta'ala).
Semoga setiap ketela yang kita makan, setiap teguk air yang kita minum, dan setiap doa yang kita langitkan di bulan Rajab ini, menjadi saksi ketaatan kita di hadapan-Nya.
Dan semoga puasa hari ini diterima, dan semoga kita semua selalu diberi keikhlasan dalam setiap ibadah yang kita jalankan. Semangat untuk teman-teman yang juga sedang berjuang istiqomah dengan puasa sunnahnya!
Ya Allah,
di sepertiga malam yang sunyi,
aku meneguk sahur dengan syukur,
menyulam niat dalam hening Rajab-Mu.
Berkahilah langkah kecilku,
seperti embun yang jatuh di tanah kering,
seperti doa yang menembus langit,
sampaikanlah aku pada Ramadan-Mu.
Rajab ini adalah jembatan,
antara rindu dan persiapan,
antara sabar dan cahaya,
antara aku yang lemah,
dan Engkau yang Maha Kuat.
Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana
wa ballighna Ramadhan.
Seringkali kita terlalu sibuk mematut diri di depan cermin dunia, hingga lupa bahwa pakaian terakhir kita hanyalah selembar kain mori. Tanpa saku, tanpa perhiasan, tanpa gelar yang kita banggakan.
Dunia ini memang panggung yang penuh prasangka. Kadang, saat kita memegang sebuah amanah besar, orang lain hanya melihat "bungkusnya". Mereka mengira ada kemewahan di sana, mengira ada keuntungan duniawi yang melimpah, hingga tanpa sadar mereka datang hanya untuk memanfaatkan atau sekadar mencari celah.
Padahal, hanya Allah yang tahu betapa seringnya pundak ini gemetar. Hanya Allah yang tahu berapa banyak "rahasia" yang harus disimpan rapat antara diri ini dengan sajadah sepertiga malam. Tentang bagaimana harus tetap tegak berdiri demi harapan orang lain, sementara diri sendiri sedang berjuang tertatih memenuhi kebutuhan pribadi.
Menjadi "penjaga amanah" itu sunyi. Kita dituntut untuk selalu ada, selalu memberi, dan selalu kuat. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Ada kalanya rasa lelah itu datang menyapa, bukan karena ingin berhenti, tapi karena butuh jeda untuk sekadar bernapas dan menyadari bahwa saya pun butuh dicukupkan oleh-Nya.
Kelak, saat waktu saya selesai, saya akan meninggalkan semua ini. Entah itu gedung, sistem, atau nama baik yang selama ini dijaga. Saya ingin pulang dengan hati yang lapang, tanpa membawa beban dunia yang bukan milik saya.
Terima kasih untuk setiap ujian "prasangka" yang datang. Itu adalah cara Allah agar saya tidak terlalu cinta pada dunia dan lebih berharap pada balasan-Nya yang tak pernah salah alamat.