Ketika Hati Sedih, Tapi Tidak Panik

Bismillah.

Hari ini Allah kembali mengajarkanku tentang ketenangan.

Sejak pagi ada sedikit perubahan rencana. Hari Minggu biasanya ada petugas pengganti yang membantu karena petugas utama sedang libur. Namun qadarullah, petugas yang biasa menggantikan tidak bisa datang karena anaknya sedang kurang sehat.

Sempat kaget ketika membaca pesan itu. Manusiawi.

Tetapi anehnya, hati tetap tenang.

Aku mencoba mencari solusi satu per satu. Menghubungi orang yang mungkin bisa membantu, memberi arahan pekerjaan, dan menyesuaikan keadaan yang ada.

Di tengah semua itu, ada hal lain yang juga sedang kupikirkan.

Ada sebuah kewajiban yang harus segera diselesaikan. Nominalnya tidak kecil bagiku. Sementara bulan ini Allah belum menghadirkan rezeki sebanyak yang kubutuhkan.

Sedih?

Tentu saja.

Aku juga manusia.

Tetapi aku tidak ingin panik.

Karena sepanjang hidupku, aku sudah terlalu sering melihat bagaimana Allah membuka jalan dari arah yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku kembali mengulang doa yang sering kupanjatkan:

"Aghnini bifadhlika 'amman siwak."

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku juga tersenyum mengingat kebiasaanku sendiri.

Kadang aku berkata:

"Allahumma sugeh."

"Allahumma duit okeh."

Dengan bahasa sederhana yang hanya ingin menyampaikan satu hal:

Ya Allah, Engkau Maha Kaya.

Dan aku percaya kepada-Mu.

Kebutuhanku memang banyak. Ada biaya operasional, kebutuhan harian, gaji pekerja, belanja, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tetap percaya.

Karena sering kali pertolongan Allah datang bukan ketika aku sudah melihat jalan keluarnya.

Melainkan ketika aku masih duduk menunggu sambil berusaha tenang.

Mungkin hari ini aku belum tahu dari mana jawabannya akan datang.

Namun aku tahu kepada siapa aku meminta.

Dan itu sudah cukup untuk membuat hati lebih tenang.

Maka hari ini aku ingin mencatat satu hal:

Sedih itu manusiawi. Tetapi percaya kepada Allah adalah pilihan yang ingin terus kujaga.

Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.



H-2 KLI 17 📖


Ada langkah yang sudah sampai di titik cukup,

tapi jiwa memilih untuk melampaui.
Bab minimal telah terlewati,
dan kini pena kembali bergerak
menyusuri bab-bab yang belum bernama.
Semangat, jangan padam.

Sing Tenang

Refleksi ini kutulis untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa rezeki, pertolongan, dan jalan keluar selalu datang dari-Nya. Tugas kita hanyalah berikhtiar, bersabar, dan menjaga hati tetap "sing tenang".

Hari ini aku belajar bahwa tidak semua beban datang dalam bentuk kekurangan uang. Kadang beban terbesar adalah menunggu kepastian dari orang lain.

Sudah beberapa hari pikiranku tertuju pada cicilan yang akan jatuh tempo. Selama ini aku dan seorang teman berbagi tanggung jawab. Ketika Allah memberiku kelapangan rezeki, aku berusaha membantu dan menutupi kekurangan. Namun kali ini keadaanku berbeda. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga aku tidak lagi mampu menanggung semuanya sendiri.

Yang membuat hati terasa berat bukan semata soal uang, tetapi sikap diam ketika komunikasi sangat dibutuhkan. Seandainya belum ada rezeki, katakanlah. Seandainya belum mampu, sampaikanlah. Karena kejujuran sering kali lebih menenangkan daripada diam tanpa kabar.

Meski demikian, aku bersyukur. Aku masih memikirkan masalah ini, tetapi tidak panik. Aku masih merasa cemas, tetapi tidak kehilangan harapan. Aku percaya bahwa rezeki tidak bergantung pada manusia. Allah mampu menghadirkan pertolongan dari jalan yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku memilih untuk tetap berikhtiar, tetap mengingatkan dengan baik, dan tetap menjaga hati agar tidak dipenuhi prasangka. Jika Allah berkehendak, Dia akan mencukupkan segala kebutuhan pada waktu yang paling tepat.

Ya Allah, lapangkanlah urusanku. Berikan rezeki yang halal dan berkah untukku serta orang-orang yang memiliki tanggungan bersamaku. Jauhkan hatiku dari rasa kecewa yang berlebihan, dan dekatkan aku kepada keyakinan bahwa pertolongan-Mu selalu lebih besar daripada kekhawatiranku.

Aamiin.


Dulu, setiap kali hidup terasa berat, aku menangis.

Hari ini masalah belum sepenuhnya selesai. Pertolongan yang kutunggu juga belum tampak jelas. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam hati.

Aku tidak menangis.

Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak memiliki beban.

Mungkin karena Allah sedang mengajariku cara yang lain.

Air mata itu sudah selesai pada masanya.

Kini, Allah menggantinya dengan ketenangan.

Sing tenang.

LANGIT DI DADA | Official Lyric Video

 https://youtu.be/yhsCABUvDqQ?si=CxMF2Mg_u4r3XDsM

LANGIT DI DADA

Lirik & Ciptaan: Ana Restuningtyas


Tak semua jalan mudah kulalui

Tak semua mimpi hadir seperti yang kuingini

Namun kupercaya di setiap cerita

Allah selalu menjaga langkah hamba-Nya


Meski roda menjadi teman perjalanan

Tak menghalangi luasnya harapan

Kutulis doa di setiap karya

Menitipkan cahaya untuk sesama


Karena ada langit di dada

Tempat kusimpan doa-doa

Saat dunia terasa lelah

Allah selalu ada


Karena ada langit di dada

Tempat harapan tetap menyala

Apa pun yang datang menyapa

Kuucap Alhamdulillah


Malam-malam panjang jadi saksi

Air mata berubah menjadi syukur di hati

Kutemukan arti hidup yang nyata

Menjadi manfaat walau sederhana


Jika rezeki belum juga tiba

Aku percaya Allah Maha Kaya

Selama hati tetap bersama-Nya

Tak ada yang sia-sia


Karena ada langit di dada

Tempat kusimpan doa-doa

Saat dunia terasa lelah

Allah selalu ada


Karena ada langit di dada

Tempat harapan tetap menyala

Apa pun yang datang menyapa

Kuucap Alhamdulillah


Bukan tentang kuatnya diriku

Tapi kuatnya pertolongan-Mu

Bukan tentang langkah yang sempurna

Tapi tentang cinta-Mu yang selalu ada


Karena ada langit di dada

Tempat kusebut nama-Mu selalu

Dalam sujud dan setiap doa

Kuserahkan hidupku


Karena ada langit di dada

Hingga akhir usia tiba

Innasholati wanusuki

Lillahi Ta'ala...



Allah Menghadirkan Pertolongan Melalui Tangan-Tangan Baik

 Bismillah.

Alhamdulillah, hari ini salah satu proses yang cukup panjang dalam hidupku dimulai. Sidang pertama perceraianku berjalan dengan baik.

Jujur, ada banyak hal yang kupikirkan sebelumnya. Bukan hanya tentang sidang itu sendiri, tetapi juga tentang segala sesuatu yang menyertainya.

Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, setiap kali harus keluar rumah ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Ada biaya transportasi, biaya sewa mobil, bantuan tenaga untuk mengangkatku ke kursi roda dan ke dalam kendaraan, serta berbagai kebutuhan lain yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.

Karena itulah, kehadiran tim kuasa hukum yang mendampingi hari ini menjadi nikmat yang sangat besar bagiku.

Aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim pendamping dari LBH Garda Keadilan Indonesia yang telah dengan sabar membantu, mendampingi, dan mewakili kepentinganku dalam proses ini.

Terima kasih atas kesabaran, perhatian, dan profesionalisme yang diberikan. Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, pendampingan ini sangat berarti bagiku karena membantu meringankan berbagai kendala yang harus kuhadapi dalam proses persidangan.

Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang biasa. Namun bagiku, bantuan tersebut sangat berarti dan meringankan banyak hal.

Hari ini kembali mengingatkanku bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang ada di sekitar kita.

Ketika kita merasa tidak mampu melakukan semuanya sendiri, Allah mengirimkan orang-orang yang membantu menyempurnakan kekurangan kita.

Untuk sidang berikutnya, insyaa Allah akan dilaksanakan bulan depan. Aku tidak tahu bagaimana proses ke depannya, tetapi hari ini aku memilih untuk bersyukur.

Bersyukur karena Allah memberikan kemudahan.

Bersyukur karena Allah menghadirkan orang-orang baik.

Bersyukur karena Allah menguatkan hati untuk menjalani setiap tahap kehidupan.

Aku percaya, setiap takdir yang Allah tuliskan pasti mengandung hikmah yang terbaik.

Dan hari ini, aku hanya ingin mencatat satu hal:

Terima kasih ya Allah, karena sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa aku tidak berjalan sendirian.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. 🤲