RINDU YANG TAK BISA DIAM

(Kutulis untuk anak2 LKSA Peduli Sahabat Batang)


Hari-hari berlalu dalam kesibukan,

tapi di sela itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh dalam diam.

Rindu senyum-senyum polos penuh harapan,

rindu tawa kecil yang tulus, tanpa beban.


Mereka bukan sekadar anak binaan,

mereka bagian dari doa yang kusebutkan setiap malam.

Setiap nama, setiap wajah,

tersimpan rapi di ruang hati yang tak pernah lelah.


Andai bisa kugenggam waktu,

ingin sekali datang dan memeluk satu-satu.

Bercerita, mendengar, dan menyeka duka,

walau hanya dengan tatapan hangat seadanya.


Ya Robb.. sampaikan rinduku lewat angin,

biar mereka tahu:

di manapun aku berada…

mereka tak pernah jauh dari doa.



AKU MASIH ADA

Aku tidak setenang langit pagi,

tapi aku belajar menenangkan badai dalam diri.

Bukan karena hidupku mudah,

tapi karena aku tahu—

marah tak bisa mengubah arah,

dan sedih tak bisa membayar mimpi.


Tubuhku terbatas,

tapi jiwaku luas.

Aku tak bisa berlari mengejar dunia,

maka kugenggam dunia dari tempatku berada.

Dengan jemari yang tak lelah berjuang,

kupilih jalan sunyi:

mengetik, berjualan, mencipta harapan,


Aku masih di sini.

Masih menyapa dunia dengan senyum,

Masih mencoba bertahan,

bukan karena tak lelah,

tapi karena aku percaya:

Tuhan melihat semua yang tak terlihat orang lain.


Dan jika hari ini hanya bisa kulalui dengan setengah tenaga,

maka akan kuberikan setengah itu dengan sepenuh hati.

Karena aku bukan ingin dikasihani,

aku hanya ingin dimengerti,

bahwa perjuanganku nyata,

meski tak selalu terdengar suara.


Aku masih ada.

Masih melangkah dalam diam,

masih menyalakan semangat dari dalam.

Karena hidup bukan tentang sempurna,

tapi tentang bagaimana kita memilih

untuk tetap hidup dengan makna



JALAN PULANG

 Seseorang yang telah ditakdirkan,

tak akan hilang meski terpisah angin dan waktu.

Ia akan menapak sepi, menembus sunyi,

mencari jejak yang pernah ia tinggalkan di hatimu.


Tak perlu kau teriak,

tak perlu kau cari dalam ribuan arah.

Ia tahu, meski diam-diam,

ke mana arah pulang yang paling sunyi namun pasti—kepadamu.


Karena takdir bukan tentang seberapa lama kau menunggu,

tapi tentang seberapa yakin langkahnya menuju

tempat di mana hatinya terasa utuh:

dalam dekapan namamu


LANGIT DI DADA

Aku tidak berjalan seperti mereka,

tidak pula melangkah dengan bebas ke mana saja.

Tapi aku punya dunia,

yang tak terlihat mata,

yang tumbuh diam-diam di dada—

namanya harapan, bentuknya langit.


Langit itu luas,

seperti sabar yang terus aku peluk,

seperti rindu yang tak pernah aku tolak,

seperti mimpi yang kutenun dari titik-titik nyeri

menjadi cahaya kecil yang tak pernah padam.


Aku pernah terjatuh di sunyi,

di tempat di mana suara tak menyapa

dan dunia seperti lupa.

Tapi langit di dadaku tak pernah pergi,

ia tinggal, ia menunggu,

ia menjadi saksi bahwa aku tetap hidup.


Tangan ini menari di atas layar,

bukan untuk mengeluh—

melainkan untuk berkarya.

Kursi ini tak mengurungku,

ia malah jadi perahu,

mengantar aku ke tepian mimpi yang kupahat sendiri.


Aku bersyukur.

Untuk mereka yang hadir saat gelap,

untuk secangkir semangat dari sahabat,

untuk peluk yang tak selalu berbentuk tangan,

tapi selalu sampai ke hati.


Dan aku bermimpi.

Bukan untuk jadi besar,

tapi untuk terus berarti.

Untuk jadi suara dalam senyap,

untuk jadi bukti bahwa cinta dan tekad

bisa membuat langit bersinar

meski ia tumbuh

di dada seorang manusia yang hanya bisa diam

namun tak pernah menyerah


ALLOH MERANCANGNYA (dengan cinta)

Alloh merancangnya,

dengan cinta yang tak selalu terlihat mata,

bukan sekadar apa yang kau pinta,

tapi apa yang paling kau butuh di dunia.


Jangan benci jalan yang Ia pilihkan,

meski kadang pedih, tak kau mengerti tujuan.

Sebab di balik musibah, ada balasan,

di balik sakit, tersimpan ampunan.


Setiap kehilangan bukan akhir,

karena pengganti akan datang, meski tak selalu serupa wujud dan takdir.

Dan sabarmu...

tak pernah sia-sia di sisi-Nya yang Maha Mengerti rasa.


Kebaikan itu sering terlambat datang,

bukan karena Ia lupa,

tapi karena hatimu perlu siap menerimanya

dengan prasangka baik pada-Nya.