MATAHARIKU

Aku memanggilnya matahariku

Poros dari setiap langkah yang kubuat.  

Seperti bunga matahari, aku menengadah,  

Mengikuti sinarnya tanpa ragu.  


Ia membakarku, tapi dalam cahayanya, aku mekar.  

Hangatnya bukan sekadar luka, tapi pertumbuhan.  

Aku menari dalam sorotnya, mencari makna,  

Hingga suatu ketika, ia lenyap dari cakrawala.  


Tanpa kehadirannya, daun-daunku merunduk,  

Kelopak yang mekar, kini tertunduk lesu.  

Aku bertanya pada angin, apakah matahariku tahu?  

Bahwa tanpanya, aku perlahan layu


JEJAK YANG TAK TERHAPUS

 Dalam hidup,  

kadang dibenci, kadang disukai,  

kadang dicari, kadang diabaikan,  

kadang dilupakan…  


Namun langkah tak berhenti,  

karena hidup adalah tentang menerima,  

tentang bertahan saat angin menerpa,  

tentang terus melangkah tanpa ragu,  

tanpa kehilangan jati diri.  


Biar waktu menguji,  

biar dunia mengubah wajahnya,  

jiwa yang teguh tetap berdiri,  

menjadi kisah yang tak terhapus oleh lupa


Karena Allah, Segalanya Indah

Teruslah berlatih,

Meski letih memeluk setiap jengkal napas yang pasrah.

Teruslah berkarya,

Meski pujian tak pernah singgah,

Dan karya terdiam tanpa suara.


Percayalah…

Lelahmu bukan sia-sia,

Air matamu bukan sekadar luka.


Sebab ketika niatmu lurus karena-Nya,

Langit pun mencatat setiap langkah setia.

Dan semua yang kau rasa perih

Akan berubah menjadi berkah yang bersih,

Menjadi keindahan,

Dalam pandangan Tuhan




Manis yang Tak Terjamah

 Lebih baik teguk pahitnya kenyataan,  

Daripada menunggu manis yang tak kunjung tiba,  

Sebab luka yang jujur lebih menenangkan,  

Daripada harapan yang hanya fatamorgana.  


Pahit itu mengajar, mendewasakan,  

Ia tak menipu, tak berjanji palsu,  

Sedang angan yang terlalu indah,  

Seringkali berakhir menjadi abu.  


Maka biarkan lidah mencicipi getirnya hidup,  

Sebab dari sana kita belajar makna syukur,  

Tak semua pahit adalah duka,  

Tak semua manis adalah bahagia




Kau, Hari Raya di Semua Hari-Hariku

Kau hadir seperti cahaya fajar,  

Menyelimuti langkahku dengan warna-warna hangat.  

Di setiap pagi yang biasa, kau menjadikannya luar biasa.  

Di setiap senja yang sederhana, kau mengukirnya jadi cerita.  


Kau adalah gema takbir di dadaku,  

Hadiah tanpa syarat dalam lelahku,  

Hidup terasa lebih luas, lebih lapang,  

Seperti hari raya yang tak mengenal usai.  


Di setiap detik yang berlalu,  

Kau adalah perayaan tanpa tanggal.  

Aku bersyukur, sebab dalam setiap waktu,  

Hidupku selalu bernuansa kamu