JEJAK YANG TAK KAU LIHAT

Jangan kau nilai langkah saudarimu,

barangkali ia sedang menuju cahaya,

melalui jalan sunyi yang tak pernah kau tahu,

melewati luka yang tak pernah kau rasa.


Ia mungkin tak bersuara,

tapi tiap diamnya adalah zikir,

tiap tangisnya adalah doa

yang hanya langit mampu mendengar.


Kau melihat ragu dalam langkahnya,

padahal itu keyakinan yang dibungkus hening.

Kau melihat asing di caranya,

padahal ia sedang pulang—dengan cara yang paling tulus.


Maka, lepaskan prasangka dari matamu,

dan doakan setiap jiwa yang berjalan,

karena tak satu pun dari kita,

punya peta utuh menuju Tuhan.


Tahun Baru Masih Dalam Jarak

Tahun ini datang,

dan kamu masih di sana

sementara aku menyambut bulan baru

dengan secangkir susu dan secuil rindu.


Tapi jarak tak mengurangi doaku,

karena kukirim lewat langit yang sama,

kutitip pada angin yang mungkin

menyapa rambutmu saat subuh tiba.


Ya Allah,

jika tahun lalu penuh ujian,

jadikan tahun ini ladang keberkahan

untukku yang menanti, dan dia yang juga menunggu dalam diam.


Dekatkan hati kami, meski langkah masih terpisah,

kuatkan kami untuk saling jaga,

saling doakan dalam sepi yang rahasia.


Dan bila tiba waktunya bersua,

biarlah cinta ini tidak hanya bertahan,

tapi tumbuh

dalam restu-Mu yang paling tenang.




SUSU DI MALAM TAHUN BARU


Di antara tenang dan sunyinya malam,

Kugenggam hangat gelas susu yang lembut seperti doa.

Ya Alloh, berkahilah yang kuseguk perlahan,

Tambahkan cinta, kesehatan, dan harapan dalam setiap tegukan.

Semoga putihnya mengalirkan ridha-Mu,

hingga hari-hariku menjadi manis seperti niat yang kuucap malam ini.


Allohumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu

DIBAWAH TANAH YANG SUNYI

Hari ini aku pulang, Bu...

bukan ke rumah yang biasa,

tapi ke rumah Ibu yang paling sepi 

di mana tak ada atap, hanya langit,

dan tak ada pintu, hanya doa.


Aku datang, Bu...

bawa semua rindu yang tak pernah selesai,

bawa semua cerita yang dulu

selalu Ibu dengar meski aku belum selesai bicara.


Aku sudah berusaha jadi kuat, Bu,

aku datang sendiri ke tempat yang jauh,

berjuang membawa amanah,

sambil diam-diam berharap...

andai Ibu masih ada,

pasti Ibu peluk aku tanpa bertanya banyak.


Di sini aku duduk,

di dekat namamu yang tertulis di batu,

menatap tanah basah,

dan menunduk — karena hanya itu yang bisa kulakukan

ketika rindu tak punya lengan

untuk memeluk kembali.


Ibu...

kalau malam Ibu datang dalam mimpiku,

jangan cepat-cepat pergi ya...

biar aku bisa pulang sebentar

ke dalam pelukan yang tak pernah terganti.


SELAMAT SIANG LDR-KU

Di antara jeda siang yang panas,

aku kirim napas rindu lewat angin pelan.

Jangan lupa makan, ya,

dan jangan lupa bahagia juga, meski aku tak di sana.


Hari ini panjang,

dan mungkin melelahkan,

tapi tolong…

jaga kesehatanmu dengan lembut,

jaga dirimu dengan sabar,

jaga hatimu—jangan biarkan lelah membuatnya goyah.


Ada jarak yang tak bisa kupeluk,

tapi ada doa yang selalu menjemputmu.

Kita belum bisa duduk di bangku yang sama,

tapi percayalah,

rindu ini tidak pernah istirahat.