Maaf dari Raga, Cinta dari Hati

Kata hatiku lirih berbisik,

maafkan aku yang tak mampu,

raga ini terbatas, lumpuh tak berdaya,

namun cinta dan doa selalu setia.


Aku tak bisa melayani seperti yang lain,

tangan ini lemah, langkah tak berjalan,

tapi hatiku tetap ingin memberi,

dengan sabar, dengan doa, dengan kasih.


Ya Allah, jadikan kekuranganku cahaya,

agar orang melihat bukan kelemahan,

melainkan ketulusan yang tak pernah padam,

karena cinta sejati tak butuh balasan.



Tiga Tahun Mengetuk Pintu, Hingga Allah Membukanya




Ada perjalanan yang tak pernah terlihat oleh mata orang lain.
Ada lelah yang tidak tercatat dalam laporan, tetapi tercetak dalam tulang belakang seseorang yang terus berdiri.
Ada doa yang tidak bersuara, tetapi mengguncang langit.
Dan itulah perjalanan kecilku bersama LKSA Peduli Sahabat Batang.

Tahun 2022, aku memberanikan diri mengirim proposal.
Dengan harapan sederhana: agar yayasan kecil ini punya napas untuk berjalan.
Belum ada jawaban.

Tahun 2023, aku kirim lagi.
Masih dengan keyakinan yang sama, meski jalannya terasa makin panjang.
Belum ada titik terang.

Tahun 2024 aku tetap mengetuk pintu yang sama.
Sampai akhirnya…
Tahun 2025, setelah tiga tahun menunggu,
pintu itu benar-benar dibukakan oleh Allah.
Dana hibah itu cair.
Dan aku menangis… bukan karena nominalnya,
tapi karena akhirnya yayasan ini diperhatikan.

 

Delapan tahun kami berjalan tanpa sarana prasarana.
Delapan tahun semua alat kerja adalah milikku pribadi
laptopku, meja kerjaku, printerku, semua kupakai untuk yayasan.
Sampai dua laptopku rusak dipakai untuk kerja sosial.

Aku masih ingat hari itu…
Laptopku mati total.
Tepat saat deadline tugas-tugas LKSA menumpuk.
Dan aku duduk lama… bingung harus bagaimana.
Sampai akhirnya aku menyewa laptop hanya untuk menyelesaikan laporan.
Begitu berat.
Tapi tetap kulakukan karena amanah ini bukan main-main.

Di titik paling lelah itu, Allah kirimkan bantuan:
seorang sahabat alumni SMA,
yang dengan kebaikan hatinya berkata,
“Pakai laptopku dulu an”
Dan hari itu… aku merasa seperti diberi napas.

Laptop pinjaman itu menjadi nyawa yayasan.
Menjadi jembatan agar semua laporan bisa selesai.
Menjadi bukti bahwa Allah menolong lewat tangan-tangan yang tak disangka.

Dan kini…
Yayasan kecil yang dulu tak punya apa-apa,
pelan-pelan bisa membeli laptop sendiri, komputer sendiri, meja, kursi, lemari arsip, perlengkapan kantor, dan semua kebutuhan dasar.

Bukan karena kami hebat.
Tetapi karena Allah menggerakkan hati banyak orang baik.

 

Hari ini, LPJ itu akhirnya selesai dan diserahkan.
Tebal, rapi, penuh perjuangan,
penuh malam tidak tidur, penuh kekhawatiran yang aku simpan sendiri.
Tapi juga penuh kelegaan…
karena untuk pertama kalinya, yayasan ini berdiri dengan fasilitas yang layak.

Aku menuliskan ini bukan untuk membanggakan diri
tetapi untuk mengingatkan diriku sendiri:

Bahwa doa yang terus dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Bahwa perjuangan sunyi suatu saat akan berbuah.
Bahwa kalau niatnya baik, Allah akan menolong dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dan bahwa setiap langkah kecil yang kutapakkan hari ini,
adalah hadiah dari tiga tahun yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu.

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah ya Rabb.

LKSA Peduli Sahabat Batang,
semoga terus menjadi rumah bagi banyak harapan.
Dan semoga Allah menjaga setiap amanah yang dipercayakan kepada kami.

















Ketika Aku Harus Melepaskanmu

Aku pernah mundur dari seseorang

bukan karena cinta ini padam,
bukan karena hatiku berhenti bergetar,
tapi karena ada hati lain
yang lebih memanggil namanya.

Ada tangan lain
yang lebih ia cari,
ada dekap lain
yang lebih menenangkan jiwanya.

Dan aku…
hanya menepi,
memberi ruang bagi takdir
untuk memilih tempat terbaik baginya.

Mundur bukan berarti kalah,
bukan berarti rasa ini berakhir.
Justru di sanalah cinta diuji—
mampu merelakan,
meski dada sendiri
yang paling terasa hampa.

Aku mundur dengan perlahan,
tanpa drama,
tanpa meminta ia kembali.
Sebab aku tahu,
di suatu tempat,
ada sosok yang lebih ia butuhkan…
dan ia pun lebih bahagia di sana.





Berhenti sejenak untuk sahur

Pukul 03.14, malam masih sunyi, dan aku berhenti sejenak dari laporan yang menumpuk.

Hanya segelas susu kedelai menemani sahur sederhana ini, tapi rasanya cukup untuk menenangkan hati yang lelah dan menyiapkan tubuh untuk hari yang panjang.

Dalam hening itu, aku membisikkan niatku:
“Nawaitu shauma dawud lillahi ta’ala.”
Puasa Daud, puasa sunnah selang sehari, aku jalani hanya karena Allah.

Tiada kemewahan, tiada yang terlihat—hanya kesederhanaan dan ketulusan hati.
Semoga sahur ini menjadi berkah, semoga puasa hari ini menguatkan tubuh dan jiwa, dan semoga setiap langkah kecilku hari ini dicatat sebagai amal shalih.

Dan meski malam masih panjang, aku yakin setiap detik yang kutitipkan pada Allah tidak akan sia-sia.
Bismillah… untuk kesabaran, untuk keberkahan, dan untuk hari yang Allah mudahkan.


Akhir Tahun 2025

Ada hari-hari ketika aku berjalan pelan,

Bukan karena lemah,

melainkan karena ingin lebih dekat pada-Nya.

Di antara sunyi dan sibuknya rasa,
seperti ada bisikan lembut dari langit:
“Tenanglah… Aku menjagamu.”

Maka aku tundukkan hati,
kulepaskan semua takut yang kupeluk terlalu lama,
kuserahkan seluruh perjalanan ini
pada Dia yang tak pernah meninggalkan.

Jika langkahku pelan,
biarlah, yang penting tetap menuju-Nya.

Dan di setiap jeda,
kusimpan doa:
semoga hidupku ditata
dengan cara paling indah oleh Allah,

meski aku hanya melangkah perlahan.